AYOJAKARTA.COM - Pengakuan Putri Candrawathi terhadap kasus pemerkosaan yang menimpa dirinya selama persidangan berlangsung diragukan banyak pihak.
Narasi terus diciptakan sejak awal kasus ini bergulir bahwa motif pembunuhan berencana Brigadir J ini adalah kasus pemerkosaan.
Sejumlah pihak pun meragukan hal tersebut, termasuk Reza Indragiri seorang ahli psikologi forensik.
Dikutip AyoJakarta.com dari akun YouTube Irma Hutabarat Minggu (18/12/2022), Reza Indragiri mengatakan bahwa tidak masuk akal jika seseorang yang telah mengalami tindak pemerkosaan dalam hitungan menit mencari pelaku pemerkosaan dan berada satu ruangan dengannya.
"Momen diperkosa dengan momen kedatangan Brigadir Yosua berapa hari? hanya berapa menit, masuk akal tidak? tahapan ketiga pemulihan pemerkosaan, berlangsung hanya dalam beberapa menit saja," ucap Reza Indragiri.
Sementara itu, dikutip dari kanal Youtube Kompas.com, Ratna Batara Munti seorang Aktivis Jaringan Pembela Hak Perempuan Korban Kekerasan Seksual mengatakan pada sebuah acara talkshow tentang keraguannya terhadap proyeksi yang ditampilkan Putri Candrawathi saat bersaksi sebagai sosok yang lemah.
"Dari posisinya dan juga dari keterlibatan dari kasus ini kan terlihatkan dari fakta-fakta persidangan.
Seperti yang dikatakan oleh Richard Eliezer bahwa dia itu ada waktu perencanaan awal," ucap Ratna Batara Munti.
Ia bahkan menyebut bahwa ada kemungkinan bahwa Putri Candrawathi adalah sosok yang menjadi otak dari perencanaan pembunuhan tersebut.
"Ya bisa jadi dia adalah otak di balik semua ini," ucap Ratna Batara Munti.
Ratna pun kemudian meyakini bahwa ada sebuah peristiwa yang diduga lebih besar sehingga menyebabkan hilangnya nyawa Brigadir J.
"Ada sesuatu yang lebih besar ya, sehingga ia harus menggunakan motif KS (kekerasan seksual) dan dia memang harus dieksekusi," ucap Ratna.
Ratna pun menyampaika keragu-raguannya mengenai sikap Putri Candrawathi yang tidak menampilkan bahwa dia adalah seorang korban kekerasan seksual seperti yang lainnya.
"Semua sikap-sikap yang ditanyangkan kepublik itu adalah sikap-sikap yang jauh dari kelaziman seorang korban-korban kekerasan seksual," ucap Ratna.
Ia pun menambahkan tentang keragu-raguanya mengenai relasi antara pelaku dan korban.
Ratna mengatakan bahwa dengan melihat latar belakangnya sebagai istri dari seorang petinggi Polri dan Yosua hanya seorang ajudan menjadikan kasus kekerasan seksual ini semakin mencurigakan.
Kekerasan seksual itu sebenarnya adalah soal relasi antara pelaku dan korban, itu saja kan sudah mencurigakan sejak awalkan harus kita dalami," tambah Ratna.***

Share this article
Aktivis Ratna Batara Munti ragu dengan pengakuran Putri Candrawathi sebagai korban pemerkosaan, sebut begini soal sosok istri Ferdy Sambo.