AYOJAKARTA.COM – Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E mengakui adanya rasa takut terhadap Ferdy Sambo sehingga tidak berani menolak perintah.
Saat diperintah untuk menembak Brigadir J, Bharada E mengiyakan permintaan Sambo itu meski dihantui rasa tak yakin.
Sebelum Bharada E menembak Brigadir J, dia sempat berdoa agar perintah Sambo itu tidak akan terjadi.
Pada sidang kasus pembunuhan Brigadir Yosua di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 10 Oktober 2022, jaksa membacakan BAP dan diketahui bahwa pada saat Kuat Maruf berada di lantai dua, terdakwa Richard Eliezer juga naik ke lantai dua.
Tetapi, bukannya berpikir dan mengurungkan niatnya untuk menembak Brigadir Yosua, Richard Eliezer justru melakukan ritual berdoa.
“Pada saat saksi Kuat Maruf berada di lantai dua terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu juga naik ke lantai dua dan masuk ke kamar ajudan,” ujar JPU dalam membacakan BAP, dikutip dari siaran Kompas TV, Ahad, 8 Januari 2023.
“Namun bukannya berpikir untuk mengurungkan dan menghindarkan diri dari rencana tersebut, terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu justru melakukan ritual berdoa,” lanjutnya.
Baca Juga: Bikin Kagum! Ini Deretan Sikap Albert Aries Saksi Ahli Richard Eliezer yang Banjir Pujian Netizen
Berdasarkan keyakinannya meneguhkan kehendaknya sebelum melakukan perbuatan merampas nyawa korban Nofriansyah Yosua Hutabarat,” tambahnya.
Sebelumnya Richard Eliezer juga telah memberikan keterangannya pada persidangan di PN Jakarta Selatan, Rabu, 30 November 2022.
Bharada E menjelaskan detik-detik sebelum peristiwa penembakan Brigadir Yosua terjadi.
Setelah masuk ke dalam rumah, Richard Eliezer mengikuti di belakang dan melihat Kuat Maruf mengantar tas dari Putri Candrawati ke kamar.
Setelah itu Richard Eliezer langsung naik ke lantai dua, sambil lihat lagi ke dalam kamar yang terbuka.
Ia mengaku merasa sangat ketakutan saat diminta untuk menembak rekannya yakni Brigadir Yosua.
Richard mengungkapkan tidak bisa menolak perintah Ferdy sambo dan hanya bisa berdoa agar peristiwa tersebut tidak terjadi.
“Saya masih merasa takut juga saat itu Yang Mulia,” ungkap Eliezer kepada majelis hakim, dikutip dari siaran Kompas TV, Ahad, 8 Januari 2023.
“Di pikiran saya, aduh sudah mau terjadi ini penembakan, saya masuk lagi ke kamar saya berdoa lagi di kamar dengan doa yang sama juga,” tambahnya.
Setelah selesai berdoa, Eliezer masih tetap berdiam di tempat, tetapi tidak lama kemudian terdengar suara Ferdy Sambo di bawah. Ia pun kemudian turun ke bawah.
Baca Juga: Ferdy Sambo vs Richard Eliezer Soal Kronologi Penembakan Yosua: Kalian Percaya Siapa?
“Sampai di ujung tangga, Pak FS sudah mengenakan sarung tangan, Yang Mulia,” ungkap Eliezer.
“Sarung tangan karet warna hitam,” tambahnya.
Ferdy Sambo kemudian bertanya ke Eliezer mengenai isi peluru di senjata, dan memerintahkan Eliezer untuk mengisi senjatanya.***

Share this article
Bharada E mengakui adanya rasa takut terhadap Ferdy Sambo sehingga tidak berani menolak perintah menembak Brigadir J.