AYOJAKARTA.COM -- Penghapusan jurusan di SMA mulai dilakukan dan diterapkan mulai tahun 2024/2025 oleh Kemendikbud Ristek.
Hal ini menimbulkan perdebatan panjang karena Penghapusan jurusan di SMA dinilai belum siap.
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyoroti kesiapan infrastruktur sekolah dan guru dalam hadapi model pendidikan tanpa jurusan di SMA.
Baca Juga: Dede Yusuf Sebut Penghapusan Jurusan SMA Jadi Sebuah Masalah dan Terkesan Memaksa, Ini Alasannya
Ia menyatakan bahwa banyak sekolah dan perguruan tinggi masih bergantung pada sistem penjurusan.
Sehingga inilah yang berpengaruh pada tunjangan profesi guru dan sistem rekrutmen mahasiswa.
Indra juga menekankan bahwa sistem SKS (Satuan Kredit Semester) yang memungkinkan siswa memilih mata pelajaran sendiri dapat memberikan dampakpada beberapa guru.
“Infrastruktur sekolah kita guru-guru kita belum siap model yang seperti itu ini kan model SKS siswa milih sendiri,” ujar Indra Charisiadji dikutip Ayojakarta.com dari kanal YouTube METRO TV pada Sabtu, 20 Juli 2024.
Problemnya di sekolah-sekolah kita bahkan sampai perguruan tinggi itu semua siswa suruh ngambil mata pelajaran yang sama mata kuliah yang sama.
Guru yang tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup, sehingga berdampak pada tunjangan profesi mereka.
Baca Juga: Ini Alasan Kemendikbud Ristek Terapkan Penghapusan Jurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA
“Nanti berhubungan dengan tunjangan profesi guru kalau nanti misalnya ada guru yang mata pelajarannya tidak diminati oleh siswa akhirnya dia bisa nggak dapat jumlah jam yang yang harus 24 dan untuk mendapatkan tunjangan profesi,” jelasnya.
Kontroversi ini menggarisbawahi perlunya komunikasi yang lebih baik dan persiapan infrastruktur yang matang sebelum menerapkan perubahan besar dalam sistem pendidikan.
“Kemudian juga infrastruktur di kampus di perguruan tinggi dalam merekrut siswa dalam koleksi mahasiswa itu juga masih menggunakan streaming IPA IPS,” imbuhnya.
Itulah yang membuat di tahun 2013 itu tidak berjalan sesuai dengan desain kurikulumnya.
Semua pihak berharap adanya solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini demi kemajuan pendidikan di Indonesia.***

Share this article
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyoroti kesiapan infrastruktur sekolah dan guru dalam hadapi model pendidikan tanpa jurusan di SMA.