AYOJAKARTA.COM – Alergi bulu kucing merupakan kondisi yang terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap protein yang terdapat dalam air liur, urin, atau serpihan kulit kucing yang menempel pada bulunya.
Reaksi ini bisa ringan seperti bersin, namun bisa juga berat hingga mengganggu pernapasan.
Apa Penyebab Alergi Bulu Kucing?
Sebagian orang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sensitif terhadap alergen pada kucing.
Saat seseorang menghirup partikel bulu atau menyentuh kucing, tubuhnya akan menganggap zat tersebut sebagai ancaman dan menghasilkan histamin sebagai respons. Zat inilah yang memicu gejala alergi.
Baca Juga: Benarkah Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Mulai Cair? Cek Fakta Saldo KKS dan Perubahan dari DTKS ke DTSEN
Gejala Alergi Bulu Kucing yang Perlu Diwaspadai
Gejala alergi biasanya muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah terpapar bulu kucing.
Gejala yang timbul bisa ringan hingga berat, tergantung kondisi tubuh penderita. Berikut gejala-gejalanya:
1. Gejala Ringan:
- Bersin terus-menerus
- Hidung tersumbat atau berair
- Kulit terasa gatal atau kemerahan
- Mata merah dan berair
- Batuk ringan
- Muncul bentol di kulit
2. Gejala Berat:
- Batuk parah yang tak kunjung reda
- Kesulitan bernapas
- Napas berbunyi (mengi)
- Wajah terlihat pucat
- Bibir dan kuku membiru.
Biasanya, gejala berat ini terjadi pada penderita alergi yang juga memiliki riwayat asma, dan bisa muncul bersamaan dengan serangan asma.
Baca Juga: Wujudkan Kesetaraan Gender, BTN Aktif Dorong Pemberdayaan Perempuan
Cara Efektif Mengatasi Alergi Bulu Kucing
Langkah pencegahan paling ampuh adalah menghindari kontak langsung dengan kucing.
Namun, jika alergi sudah terjadi, berikut beberapa metode penanganan yang umum direkomendasikan:
1. Obat-obatan
- Antihistamin seperti cetirizine untuk mengurangi reaksi alergi
- Dekongestan seperti phenylpropanolamine untuk melegakan hidung tersumbat
- Kortikosteroid (dalam bentuk semprotan hidung) untuk mengatasi peradangan
- Inhibitor leukotrien dalam bentuk tablet untuk kasus alergi yang tidak merespon obat standar
2. Imunoterapi
Untuk jangka panjang, dokter mungkin menyarankan imunoterapi. Terapi ini melibatkan penyuntikan alergen dalam dosis kecil secara berkala agar tubuh penderita menjadi lebih kebal terhadap zat pemicu alergi.
Baca Juga: Stamina Terjamin! Intip Menu Makan Jemaah Haji Indonesia di Makkah, Ada Nasi Kuning hingga Sambal Tumis
3. Pengobatan Mandiri
Jika gejala masih tergolong ringan, penderita bisa mencoba antihistamin bebas yang dijual di apotek sebagai penanganan awal.
Namun, penting untuk tetap memantau kondisi karena alergi bisa berkembang menjadi lebih serius.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera kunjungi dokter atau fasilitas medis terdekat apabila:
- Gejala alergi tidak kunjung membaik
- Muncul gejala berat seperti sesak napas atau pingsan
Penanganan cepat dan tepat sangat penting untuk menghindari komplikasi yang berbahaya.***

Share this article
Gejala yang timbul bisa ringan hingga berat, tergantung kondisi tubuh penderita. Berikut gejala-gejalanya...