AYOJAKARTA.COM--Baru-baru ini istilah Obsessive Compulsive Disorder atau OCD sering disebut-sebut oleh publik, orang awam sering menyebutnya dengan depresi.
Beberapa orang diantaranya mungkin mengetahui OCD dari influence atau artis yang disebutkan tengah menderita gangguan psikologis tersebut.
Banyak juga masyarakat tidak bisa membedakan kasus depresi pada seseorang dengan kelainan atau gangguan psikologis OCD, terkadang mereka mengatakan keduanya adalah hal yang serupa atau sama.
Lantas apa sih pengertian dari OCD itu sendiri? apa penyebabnya, gejala dan bagaimana cara mengobatinya?. Nah hal tersebut akan dijelaskan seperti dibawah ini.
Menurut penjelasan kesehatan yang dikutip dari laman resmi Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta, obsessive compulsive disorder atau OCD adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress).
Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, OCD sendiri merupakan salah satu dari 20 penyebab utama kecacatan perihal gangguan mental. Dimana sering kali menyerang individu berusia antara 15-44 tahun.
Gangguan Obsesif Kompulsif sering disebut juga dengan gangguan kecemasan yang cenderung diturunkan dari keluarga.
Menurut tanda-tandanya bisa dilihat dari tindakan dan pikiran berulang serta menetap. Misalnya, tidak mampu menghentikan keinginan untuk mencuci tangan berkali-kali.
Dimana seseorang yang menderita OCD merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Apabila tidak dilakukan, penderitanya akan diliputi rasa cemas dan ketakutan.
Perilaku tersebut biasanya akan mendominasi pada aktivitas penderitanya dalam keseharian. Akibatnya, penderita seringkali menjadi kesulitan untuk produktif dalam bekerja.
Lalu apa penyebab OCD itu sendiri?
Hingga saat ini, gangguan OCD sebenarnya masih belum ditemukan penyebabnya secara pasti oleh para ilmuwan.
Namun, para ilmuwan menggolongkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya OCD diantaranya adalah berikut ini yaitu:
1. Faktor biologis, dimana struktur otak dan fungsinya. Akan tetapi faktor tersebut masih belum pasti berpengaruh secara signifikan atau tidak.
2. Faktor keturunan atau secara genetik.
3. Faktor lingkungan tempat tinggal.
Dikatakan sebagian besar diagnosis OCD rentan terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
Lantas bagaimana gejala OCD yang umumnya muncul dan dapat dengan mudah disadari?
1. Takut terkontaminasi oleh benda yang dianggapnya kotor.
2. Merasa ragu, apakah sudah mencuci tangan atau belum.
3. Stres ketika melihat benda tidak rapi atau tidak simetris.
4. Membayangkan menyakiti diri sendiri atau orang lain.
5. Pikiran tentang kata-kata kotor atau bertindak tidak pantas membuat dirinya tidak nyaman.
6. Pengidap juga akan terus memeriksa beberapa hal secara berulang.
Pada dasarnya gejala OCD ini bisa datang dan pergi, dan mereda seiringnya berjalanya waktu atau bisa saja menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Cara pengobatan atau solusi yang bisa dilakukan bagi penderita OCD secara umum bisa mengambil langkah terapi tingkah laku dan mengkonsumsi obat yang dianjurkan oleh dokter atau psikiatri.
Dimana pada terapi ini, pasien akan di stimuli yang memprovokasi obsesinya. Contohnya menyentuh objek yang terkontaminasi, pasien diminta menahan untuk tidak kompulsi dengan menunda untuk mencuci tangan.
Tentunya terapi ini harus didampingi oleh seorang ahli dalam bidangnya, oleh karena itu disarankan pada penderita OCD untuk melakukan konseling dengan dokter ataupun psikiatri.
Kendati demikian, dokter akan sangat menyarankan bagi keluarga dan kerabat penderita untuk menjadi support system agar pasien tidak merasa tertekan.
Sebab dukungan merupakan hal terbaik dari seorang terdekat dan merupakan salah satu cara untuk membantu penyembuhan OCD lebih maksimal.***

Share this article
Obsessive Compulsive Disorder atau OCD, banyak tidak bisa bedakan kasus depresi pada seseorang dengan kelainan atau gangguan psikologis