AYOJAKARTA.COM - Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan perseteruan antara pengelola sekolah swasta yakni SMP dan SMA Petra dengan warga Manyar, Mulyorejo, Surabaya.
Perseteruan ini terjadi karena pihak sekolah menolak kenaikan iuran keamanan sekolah yang diminta RW setempat.
Buntut dari penolakan iuran keamanan tersebut, warga akhirnya menutup akses jalan sekolah swasta itu.
Dikutip Ayojakarta dari Instagram @luarbioskop pada Senin (5/8/2024), Wakil Wali Kota Surabaya Armuji sampai turun tangan untuk menanganinya.
Baca Juga: Gara-gara Botol Sampo, Foto Laura Basuki di Kamar Mandi Ini Jadi Viral
Armuji menjelaskan bahwa perseteruan itu berawal saat pihak sekolah melaporkan terkait pungutan iuran keamanan di lingkungan setempat yang makin naik.
Pihak sekolah merasa keberatan dengan iuran yang awalnya Rp25 juta lalu naik Rp32 juta dan akan dinaikan kembali menjadi Rp35 juta per bulan.
Menurutnya, uang iuran tersebut digunakan untuk membayar gaji satpam tetapi tanpa transparansi penggunaan dana.
Menurut warga, kenaikan iuran dinilai wajar karena sekolah tersebut menyebabkan kemacetan.
Armuji menyarankan agar penyelesaian perkara ini melalui mekanisme hukum jika kesepakatan tak tercapai.
Sebagai informasi, sekolah swasta tersebut diminta membayar uang keamanan kepada bendahara yang ditunjuk pihak RW.
Sedikitnya ada tiga RW yang berada di sekitar sekolah Petra.
Masing-masing RW saat ini mengenakan biaya iuran Rp32 juta per bulan yang akan dinaikkan menjadi Rp35 juta.
Sekolah Petra dianggap sama seperti RW sehingga diwajibkan ikut membayar iuran keamanan.
Uang yang diperoleh pihak RW setempat mencapai ratusan juta rupiah dan akan digunakan untuk menggaji 30 satpam.
Masing-masing petugas keamanan digaji Rp2,5 juta, sisa uang yang diperoleh bendahara keamanan inilah yang disebut tak pernah dipertanggungjawabkan.***

Share this article
Akses jalan SMP dan SMA Petra Surabaya ditutup warga gara-gara menolak membayar iuran keamanan sekolah.