AYOJAKARTA.COM –- Fenomena alam berupa erupsi gunung Merapi kembali terjadi di wilayah Indonesia.
Erupsi tersebut terjadi pada Gunung Anak Krakatau pada hari Kamis, 11 Mei 2023 sebanyak dua kali.
Kemudian erupsi Gunung Anak Krakatau kembali terjadi pada hari ini Jumat, (12/5/23) pukul 09.20 WIB.
Diinformasikan akibat dari erupsi tersebut menyebabkan kolom abu dengan ketinggian mencapai 2,5 kilometer.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal Youtube tvOneNews pada Jumat (12/5/23), diinformasikan kolom abu tebal berwarna pekat menuju ke arah barat daya.
Sebagai informasi, Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api teraktif yang ada di Indonesia.
Untuk itu, sementara ini wisatawan maupun para pendaki dilarang untuk mendekat ke gunung dengan radius 5 kilometer.
Saat ini Gunung Anak Krakatau berada di level 3 atau statusnya siaga sejak 24 April 2023 lalu.
Terkait dengan aktivitas erupsi yang saat ini tengah dialami Gunung Anak Krakatau, sejarah terbentuknya gunung tersebut jadi menarik untuk diperbincangkan.
Sejarah terbentuknya Gunung Anak Krakatau
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Gunung Anak Krakatau muncul pada tahun 1927, selang beberapa decade lamanya sejak meletusnya Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau sendiri Meletus pada 26-27 Agustus 1883 yang kemudian letusannya berdampak hingga 2/3 wilayah dunia.
Tak hanya itu, letusan Gunung Krakatau juga menyebabkan tsunami hingga 40 meter dan menyebabkan korban jiwa sebanyak 36.417 orang.
Kemudian untuk abu letusannya sendiri terbang hingga ke daratan Eropa sampai membuat langit berwarna merah kala itu.
Baca Juga: Jangan Neko-neko! Begini Penjelasan Pakar Vulkanologi Soal Awan Panas Gunung Merapi Berbentuk Petruk
Salah satu saksi kejadian fenomena alam terbesar saat itu adalah seorang seniman yang berasal dari Norwegia, bernama Edvard Munch.
Saat itu dirinya sedang jalan-jalan sore di Ljabrochaussen Road, kota pesisir Christiania.
Munch lantas melukis apa yang saat itu ia lihat dengan mata kepalanya sendiri sambil keduanya tanganya memegang wajah menunjukkan ekspresi terkesima.
Lukisan tersebut dibuat pada tahun 1893 dan diberi judul “The Scream”, dibelakangnya terdapat langit yang berwarna kemerahan.
Warna langit saat itu juga sama dengan sketsa yang dibuat oleh William Ashcroft pada 20 Februari 1892.
Dijelaskan oleh Oki Oktariadi dalam buku berjudul Krakatau Pembentuk Akhir Selat Sunda, letusan Krakatau terjadi tahun 1883 tersebut merupakan terbesar ketiga.
Sebelumnya disebutkan pula jika Krakatau purba Meletus pertama kir-kira 150.000 tahun silam yang kemudian melenyapkan Krakatau purba dan menyisakan Pulau Rakata, Sertung, dan Pajang.
Lalu untuk letusan selanjutnya terjadi pada 60.000 tahun lalu di mana jejak letusannya sendiri terlacak pada deposit sedimentasi yang terdapat di sekitar Selat Sunda.***(Dyah Arum Ratri)

Share this article
Sebagai informasi, Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api teraktif yang ada di Indonesia.