AYOJAKARTA.COM – Melaksanakan puasa adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan di Bulan Ramadan oleh seluruh umat Muslim.
Menurut bahasa, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari karena perintah Allah SWT semata-mata, serta disertai niat dan syarat.
Sedangkan menurut istilah, pengertian puasa adalah beribadah kepada Allah SWT dengan menahan diri dari makan dan minum, dan pembatal puasa lainnya, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Baca Juga: 3 Perubahan Peraturan Pengajuan Pinjaman Kredit Usaha Rakyat di BRI, Debitur Wajib Tahu Agar Lolos!
Dengan adanya kondisi tidak makan dan minum dalam kurun waktu kurang lebih 12 jam, maka biasanya tubuh akan merasa lemas.
Tidak jarang ketika puasa, tubuh cenderung akan lebih mudah untuk mengantuk.
Oleh sebab itu, ketika di Bulan Ramadan akan muncul kembali salah satu hadits yang paling populer.
Hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi tersebut berisi tentang keutamaan orang yang melakukan ibadah puasa.
Dalam Hadist tersebut disebutkan bahwa Tidur Orang yang Puasa Bernilai Ibadah.
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni” (HR. Baihaqi)
Adanya Hadist tersebut, seperti pembenaran untuk melakukan tidur atau bermalas-malasan ketika sedang berpuasa di Bulan Ramadan.
Baca Juga: Ramai Desakan Surat Edaran Larangan Bukber Dibatalkan, Menko Polhukam Mahfud MD: Saya Patuh Aturan!
Pada kenyataannya, banyak tidur ketika puasa di Bulan Ramadan tidak dibenarkan. Ketika di Bulan Ramadan, kita harus memperbanyak ibadah.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘ Ulumuddin, Juz 1, hal.246 menjelaskan bahwa salah satu adab dari puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari.
Tetapi, menurut Syekh Murtadla az-Zabidi dalam kitab Ittihaf sadat al-Muttaqien di Juz 5, hal. 574 mengatakan banyak tidur disiang hari ketika puasa di Bulan Ramadan dapat bernilai positif.
Beliau menerangkan bahwa tidurnya orang yang berpuasa di siang hari dapat membantu seseorang mempersiapkan fisik untuk melakukan ibadah lainnya, khususnya ibadah yang dilakukan di malam hari.
Baca Juga: ATURAN THR 2023: Segera Diumumkan Jokowi, Segini Perkiraan THR yang Akan Diterima Oleh Karyawan
Sementara itu, Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Ittihaf al-Islam bi Khushushiyyah as-Shiyam di hal. 65 menjelaskan bahwa keutamaan dari hadist tidurnya orang berpuasa adalah ibadah tidak berlaku bagi seseorang melakukan maksiat ketika berpuasa.
Beliau menerangkan bahwa orang yang berpuasa tetapi masih melakukan maksiat seperti menggunjing maka tidurnya pun tidak dinilai sebagai ibadah.
Karena puasanya telah dikotori dengan perbuatan maksiat.
Baca Juga: Peran Raffi Ahmad Hingga Namanya Disematkan di Nama Anak Marshel Widianto, Datang pada saat Tepat!
Dilansir AyoJakarta.com dari website nu.or.id pada Minggu (26/3), Ustaz M. Ali Zainal Abidin menjelaskan bahwa tidur pada saat berpuasa disebut sebagai ibadah apabila masuk ke dalam 2 kriteria, yaitu:
1. Tidurnya orang yang berpuasa bukan dimaksudkan untuk bermalas-malasan melainkan untuk mempersiapkan diri khususnya fisik untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya agar lebih semangat.
2. Tidurnya orang yang berpuasa akan dinilai sebagai ibadah apabila ia tidak mencampuri ibadah puasanya dengan perbuatan maksiat.
Semoga dengan adanya penjelasan ini maka tidak menjadi pembenaran untuk bermalas-malasan dalam berpuasa, melainkan untuk mempersiapkan diri guna melakukan ibadah-ibadah di Bulan Ramadan.***

Share this article
Bukannya tidur seharian dan bermalas-malasan, apa sih makna Tidur Orang yang Puasa Bernilai Ibadah? Simak selengkapnya langsung di sini!