AYOJAKARTA.COM - Sebentar lagi umat muslim akan memperingati Maulid Nabi.
Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir dari Nabi Muhammad SAW.
Hari besar bagi umat muslim ini diperingati setiap tahun tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal sesuai penanggalan Hijriyah.
Sedangkan berdasarkan penanggalan nasional, Maulid Nabi Muhammad SAW akan jatuh pada hari Jumat 7 Oktober 2022.
Kemudian masih ada sebagian dari umat muslim yang bertanya apa hukum dari merayakan kelahiran Nabi tersebut?
Baca Juga: P-21, Berkas Dinyatakan Lengkap, FS Siap Disidang!
Apakah jika kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW termasuk dalam bid’ah ?
Bid’ah sendiri merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketetapan yang sudah ditetapkan.
Hal ini termasuk dalam menambahi atau mengurangi ketetapan dari sesuatu hal.
Dikutip AyoJakarta.com dari akun Tiktok Pejuang Hijrah Official pada (27/9/2022), Ustaz Abdul Somad menjelaskan tentang hukum memperingati Maulid Nabi tersebut.
Dalam unggahan video tersebut nampak Ustaz Abdul Somad atau biasa disingkat UAS membacakan pertanyaan dari salah seorang jamaahn yang hadir.
“Apakah benar itu orang yang buat maulid ini sama dengan natalnya orang Kristen ?” UAS membacakan pertanyaan tersebut.
Sontak Abdul Somad langsung memberikan jawaban menohok seperti berikut ini.
“Ini orang jahil bin goblok!” tegas Ustaz Abdul Somad.
UAS juga mengatakan jika jamaah yang bertanya hal tersebut tidak bisa membaca kitab.
“Kalo marah saya bilang jahil bin goblok berarti gak bisa baca kitab, kitabnya al hawi al kabir.” ujar Ustaz kelahiran 1977 tersebut.
Lebih lanjut Abdul Somad menjelaskan kitab tersebut merupakan kitab rintisan Imam Al Hawis Jalaludin Abdurrahman As Suyuthi.
“Al hawl lil fatawi hawi fatawa itu dirintis oleh Imam Al Hawis Jalaludin Abdurrahman As Suyuthi bahwa maulid itu masyru’ disyariatkan dengan dalil-dalilnya .” jawab UAS.
Baca Juga: Loker Terbaru Logistik 2022 Area Jakarta Barat untuk Lulusan SMK-SMA, Simak Detailnya Di sini
Ustaz Abdul Somad kemudian menjelaskan persamaan mensyukuri Maulid Nabi dengan kisah Nabi Musa As.
“Kalau boleh mensyukuri selamatnya Musa dari kejaran Fir’aun maka boleh mensyukuri lahirnya Nabi Muhammad SAW.” tutur Ustadz alumni Universitas Ak-Azhar itu.
Abdul Somad juga menjelaskan makna dari puasa 10 Muharrom as syurra sebagai wujud rasa bersyukur kita atas selamatnya Nabi Musa As dari kejaran Fir’aun.
Kemudian pada akhirnya Fir’aun lah yang tenggelam dalam laut merah.
“Maka kita juga mensyukuri selamatnya kelahiran Nabi Muhammad SAW.” tegas UAS.
Diakhir ceramah Ustaz kondang tersebut menuturkan “Wallaqirhum biiayya millaaadh ingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah.”
“Namun ada nikmat terbesar apa itu, nikmat datangnya sayyidinna Muhammad SAW.” pungkas Abdul Somad.***

Share this article
Berikut hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW menurut Ustaz Abdul Somad, ternyata bukan bidah.