AYOJAKARTA.COM--Kasus tewasnya satu keluarga di Kalideres hingga kini masih menjadi misteri.
Pasalnya satu keluarga di Kalideres yang berisi empat orang tersebut meninggal dalam waktu yang berbeda-beda.
Hingga kini penyebab kematian satu keluarga di Kalideres masih diselidiki.
Sebelumnya kematian satu keluarga di Kalideres ini disebut disebabkan karena kelaparan.
Bahkan, sebelumnya diduga satu keluarga di Kalideres ini meninggal karena pembunuhan hingga mengikuti suatu sekte.
Beberapa waktu lalu pihak kepolisian melakukan penyelidikan.
Dalam penyelidikan pihak kepolisian menemukan dua handphone milik keluarga di Kalideres tersebut.
Kedua handphone tersebut diketahui digunakan oleh keempat orang dalam keluarga tersebut.
Baca Juga: Vincent Raditya Ogah Pusing Soal Tanggapan 'DP' Istri Dulu Sebelum Nikah: Biar Puas Ya Sekalian
Dari hasil penyelidikan polisi terhadap handphone tersebut, diketahui dalam keluarga tersebut hanya ada komunikasi satu arah.
Komunikasi satu arah tersebut terjalin dari handphone ke handphone.
Diketahui isi dari pesan di handphone tersebut berkonotasi negatif.
Keempat korban memang dikenal sangat tertutup di lingkungan sekitar perumahan dimana mereka tinggal.
Baca Juga: Wendy Walters Menangis di Sidang Mediasi Perceraian, Reza Arap Tak Datang Justru Merasa Happy
Bahkan dengan keluarga sendiri, mereka juga jarang berkomunikasi.
Terkait tewasnya satu keluarga di Kalideres yang masih menjadi misteri, Kriminolog dari Universitas Indonesia yakni Andrianus Meliala menjelaskan beberapa teori.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Official iNews, Andrianus Meliala menjelaskan bahwa tidak ada bukti teori bunuh diri.
Andrianus Meliala mengatakan demikian lantaran dari keempat korban ada yang meninggal secara natural.
“Ada dari mereka yang meninggal secara wajar, sementara ada lagi dua yang lain itu kematian yang memang tidak natural tetapi juga tidak bisa disebut sebagai bunuh diri yang sukarela,” katanya.
“Desperate death, semacam kematian yang sengsara, terpaksa, artinya yang bersangkutan sebenarnya masih ingin hidup tapi ada kondisi yang membuat lalu gak bisa keluar dari situ dan kemudian meninggal,” tambahnya.
Seperti yang diketahui, korban terakhir yang meninggal di keluarga Kalideres adalah Dian.
Menurut Andrianus, Dian adalah korban yang meninggal karena desperate death atau kematian yang terpaksa.
Andrianus menyebut bahwa keluarga di Kalideres seperti sudah kehilangan tonggak pemasukan.
Ini karena sebelumnya keluarga di Kalideres pernah mampu untuk membeli makanan.
“Jadi kelihatannya keluarga ini memang keluarga yang sudah kehilangan sama sekali tonggak pemasukan ekonominya, lalu kemudian kita membaca mengenai mengapa mereka jual mobil, lalu kemudian mau jual rumah, lalu menjual handphone,” sebutnya.
“Tetapi itu semua kan ada batasnya, ada akhirnya. Ketika akhir itu kemudian dicapai tidak ada lagi barang yang bisa dijual maka tinggal mereka kemudian menunggu kematian secara sengsara,” imbuhnya.
Kemudian lebih jauh Andrianus menjelaskan karena korban berada dalam situasi yang semakin menurun kesehatannya, itu membuat korban tidak bisa berpikir dengan tenang.
Baca Juga: Titik Terang Kasus Kematian Satu Keluarga Kalideres, Polisi: Ponselnya Berisi Emosi Negatif!
“Mereka perlahan-lahan turun, turun kesadarannya lalu kemudian lewat kemudian lenyap begitu. Jadi pada saat mereka sudah mulai lenyap itulah kemudian mereka meninggal,” jelasnya.
Seperti yang diketahui, manusia adalah makhluk sosial yang mana sebagai makhluk sosial manusia bergantung pada manusia lainnya.
Akan tetapi, Andrianus menyebut bahwa keluarga Kalideres kelihatan berbeda.
Baca Juga: Salah Satu Keluarga Kalideres Meminta Saksi untuk Menutupi Kematian Sejak Mei
“Nah empat orang ini kelihatannya memang berbeda, dia adalah makhluk anti sosial, yang percaya bahwa dukungan itu hanya datang diantara mereka berempat,” sebutnya.
Selain itu, Andrianus juga menuturkan bahwa diperkirakan dua korban lain sebelum meninggal kebingungan untuk mencari bantuan.
Baca Juga: Loker Terbaru 2022 Area Jakarta Utara Posisi Admin, Lulusan SMA-SMK Bisa Daftar di Sini
“Ketika dua diantaranya meninggal duluan dan diperkirakan bahwa mereka itu meninggal karena natural death, ini kemudian membuat mereka yang dua lagi kemudian saya perkirakan sebagai goncang, bingung mau berbuat apa lalu mulai kemudian seperti mencari bantuan tetapi tidak sistematis,” lanjutnya.
“Lalu mulai jual sana jual sini, kemudian mereka sudah mulai kekurangan gizi sudah mulai tidak bisa berpikir dengan tenang, kesadaran juga makin berkurang lalu kemudian mereka meninggal dengan sengsara,” tambahnya.**

Share this article
Berikut penjelasan Kriminolong Adrianus Meliala terkait tewasnya satu keluarga di kalideres yang menghebohkan publik