AYOJAKARTA.COM - Masyarakat Indonesia bahkan hingga luar negeri dikabarkan banyak memberikan empati kepada Richard Eliezer atas kasus pembunuhan Brigadir Yosua.
Tentunya ini juga karena keberanian dan kejujuran yang Richard Eliezer tanamkan sehingga ia dinobatkan memegang status sebagai Justice Collaborator (JC) oleh LPSK.
Tak hanya itu, LPSK juga menyebut bahwa dukungan dan empati publik ini juga dinilai merupakan dampak dari doa yang pernah Richard Eliezer sampaikan sebelum menembak Brigadir Yosua.
Baca Juga: GERD dan Maag Beda, Inilah Perbedaan yang Jarang diketahui!
Dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube Irma Hutabarat - HORAS INANG diketahui LPSK menceritakan kondisi psikis Richard Eliezer usai mendengar tuntutan yang dijatuhkan oleh Jaksa Penuntut Umum.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) memberikan tuntutan kepada Richard Eliezer yakni 12 tahun penjara terkait kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Publik tak kuasa mendengar hasil tuntutan Jaksa Penuntut Umum karena dinilai terlalu berat bagi Richard Eliezer sebagai justice collaborator (JC).
Kuasa hukumnya yakni Ronny Talapessy dan publik berharap kepada Majelis Hakim sebagai wakil Tuhan agar memberikan keadilan terhadap Richard Eliezer.
Baca Juga: Biaya Haji Naik, Komisi VIII DPR RI Angkat Bicara: Sarapan Pagi Itu Mubazir
LPSK tersentak dengan hasil keputusan Jaksa Penuntut Umum dengan tuntutan 12 tahun penjara kepada justice collaborator.
"Ya diluar dugaan, kami LPSK pengacaranya itu memang tersentak," ujar Edwin Partogi Pasaribu selaku Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Edwin Partogi Pasaribu menjelaskan kondisi psikis Richard Eliezer usai mendengar hasil tuntutan.
"Saya pikir dia sudah berdamai, saya melihat dia tuh orang yang menurut saya matang, dia bisa mengendalikan emosinya, walaupun terpukul ketika mendengar tuntutan itu menurut saya ekspresi gak berpihak," ungkap Edwin Partogi Pasaribu.
"Dia menangis, tapi dia bisa nahan dirinya, tidak terisak-isak," sambungnya.
Baca Juga: CEK FAKTA : Buntut Panjang Utang Rp50 M, Sandiaga Uno Seret Anies Baswedan Ke Jalur Hukum?
Menurut Edwin Partogi Pasaribu, Richard Eliezer dinilai selalu sigap dalam melakukan sesuatu.
"Menurut saya secara mental dia matang, orangnya juga cukup rendah hati, cukup sigap, kalo ada sesuatu yang dia bisa lakukan, dia akan lakukan, itu dia cukup sigap," jelas Edwin Partogi Pasaribu.
Diketahui Ibu Richard Eliezer pernah mengatakan kepadanya bahwa Richard Eliezer adalah sosok anak yang penurut sejak kecil.
"Emang anak baik, yang saya dengar itu langsung dari ibunya, dia dua bersaudara, kalo kata ibunya Icad tuh dulu cengeng, dibanding kakaknya dia lebih nurut, lebih rajin ibadah," tutur Edwin Partogi Pasaribu.
"Si Icad tiba-tiba nyeletuk ke saya, 'itu lah pak karena saya penurut, saya berpikir kan Pak Sambo itu bapak saya, jadi saya nurut aja', tapi saya pikir ada benarnya ya, walaupun ada efek negatifnya," sambungnya.
Edwin Partogi Pasaribu berpikir bahwa memang benar bahwa Richard Eliezer sudah anggap Ferdy Sambo sebagai bapaknya.
"Tapi sebenarnya dia sudah menganggap Sambo itu udah kayak orang tua, bapak, dari sisi usia, jabatan, segala macam, dan juga rentang pangkat," ujar Edwin Partogi Pasaribu.
Diketahui sebelum peristiwa terjadi Richard Eliezer sempat berdoa agar Sambo membatalkan niat jahatnya.
Baca Juga: Heboh Prediksi Gempa Turki 3 Hari Sebelum Kejadian, Daryono: Tidak Ada Bukti Empiris
"Dalam doa dia, sebelum peristiwa itu terjadi, dia minta pada Tuhan, agar ubah niatnya Sambo, agar Sambo membatalkan niatnya," ungkap Edwin Partogi Pasaribu.
Namun Edwin Partogi Pasaribu mengatakan bahwa doanya itu masih berdampak dengan hadirnya publik yang bersimpati kepada Richard Eliezer.
"Tapi saya rasa doa itu masih berdampak, dampaknya itu yang tadi kita lihat, orang tidak ada hubungan darah, tidak ada hubungan keluarga, tidak ada hubungan kekerabatan, dari bukan hanya dari Jakarta, dari seluruh Indonesia, bahkan luar negeri," jelas Edwin Partogi Pasaribu
"Kalo kita lihat netizen tuh, orang ngomonginnya Sambo, semuanya punya perhatian pada kasus ini dan mereka punya simpati kepada Richard," pungkasnya.***

Share this article
LPSK menyebut bahwa dukungan dan empati publik adalah dampak dari doa yang pernah Richard Eliezer ucap sebelum menembak Brigadir Yosua.