AYOJAKARTA.COM--Bakal Calon Presiden Koalisi Perubahan, Anies Baswedan bicara soal tanda-tanda negara gagal di hadapan ribuan relawannya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bilang bahwa negara gagal memiliki institusi politik yang memeras dan menyingkirkan orang yang beda pandangan.
Dalam pidatonya, Anies pun mengulas tentang sebuah buku yang dibacanya berjudul Why Nations Fail atau kenapa sebuah negara bisa gagal.
Menurutnya, buku ini tidak hanya mengulas dari sisi teoritisnya melainkan kumpulan dari berbagai peristiwa yang diambil hikmahnya.
Hal inilah yang kemudian mesti diperhatikan agar sebuah negara bisa terus bangkit ke depan.
"Di antara tanda-tanda mengapa gagal, mengapa kemunduran adalah dua unsur utama, institusi politik dan institusi ekonomi," ujar Anies dilansir dari kanal YouTubenya Anies Baswedan.
Baca Juga: Wah! Prabowo Subianto Sebut Nama Anies dan Ganjar di Pidatonya, Ada Apa?
Anies mengatakan ketika Institusi politik dan ekonomi bersifat ekstraktif, memeras, maka pelan-pelan negara itu akan turun.
Oleh karena itu, bila institusi ekonomi dan politik bisa bersifat inklusif, dan memberikan kesempatan setara pada semua, maka negara pelan-pelan akan bangkit dan menjadi berkembang kuat.
"Negara dengan institusi politik bersifat memeras, menyingkirkan, cenderung mengkonsolidasi kekuatan, kewenangan pada satu pemimpin, pada satu grup, pada satu kelompok," kata Anies.
Lebih lanjut, Anies menyampaikan ciri-ciri institusi politik yang bersifat memeras adalah kekuasaannya tidak disebar dan dibagikan kepada semua.
Baca Juga: Siap Menang Pilpres 2024, Tiga Pentolan Partai Pendukung Anies Baswedan Bertemu di Pulau Pribadi
"Bahkan mereka-mereka yang berbeda pikiran politiknya, sering dipinggirkan dari arena," kata dia.
"Institusi politik yang memeras, menyingkirkan ini, seiring tidak mengindahkan etika, sering tidak mengindahkan aturan hukum, bahkan peraturan bisa ditekuk-tekuk," Sambungnya.
Orang-orang inilah yang kemudian menerapkan hukum secara tebang pilih dan berbuat semau mereka untuk menguntungkan diri sendiri di lingkaran kekuasaan.
Anies pun berharap tanda-tanda itu tidak hadir di Indonesia, sebab tanda-tanda itu bukanlah yang bagus untuk menuju kesuksesan.
Baca Juga: Singgung Soal Politik Pemerintahan Jokowi, Anies Baswedan: Negara Jangan Baperan!
Sebaliknya, Anies mengatakan bahwa negara yang baik adalah negara dengan institusi politik yang bersifat melayani dan menjunjung pilar demokrasi.
Ia melanjutkan, negara yang inklusif adalah negara yang tidak baperan. Negara yang membuka ruang publik pada kritik.
"Negara yang inklusif adalah negara yang tidak baperan, Negara yang membuka ruang pada kritik," ungkapnya.***

Share this article
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bilang bahwa negara gagal memiliki institusi politik yang memeras dan menyingkirkan orang beda pandangan