AYOJAKARTA.COM - Richard Eliezer kembali mendapat keberuntungan setelah terseret dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
Setelah divonis ringan yakni pidana 1 tahun 6 bulan oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Richard Eliezer juga tak jadi dipecat dari instansi Kepolisian.
Sebagai informasi, Richard Eliezer telah selesai menjalani sidang kode etik pada Rabu (22/2/23).
“Sesuai pasal 12 ayat 1 PP Nomor 1 2003 maka Komisi Kode Etik Polri (KKEP), selaku pejabat berwenang, memberikan pertimbangan berpendapat bahwa terduga pelanggar masih dapat dipertahankan untuk berada di dinas Polri,” ujar Karo Penmas Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan saat membacakan putusan.
Lantas apakah keputusan yang diambil oleh Propam tersebut sudah tepat untuk Richard Eliezer?
Bagaimana kira-kira nasib serta karier Richard Eliezer untuk ke depannya?
Dikutip AyoJakarta.com dari Youtube Tv One News pada Kamis(23/2/2023), menanggapi hal tersebut pengamat Intelijen Soleman Ponto memberikan pendapatnya.
Soleman Ponto dengan tegas mengibaratkan Richard Eliezer kini bagaikan sebuah gelas yang telah retak.
Baca Juga: Pakar Gestur dan Mikroekspresi Jelaskan Ekspresi Ferdy Sambo Selama Di Persidangan: Banyak Bohong!
Terkait soal karier, Soleman Ponto menyebut meski Richard Eliezer kembali bertugas namun kariernya sudah pasti akan terganjal.
“Ketika kenaikan pangkat misalnya, ada aturan di situ tertulis jelas bebas dari tindak pidana ya sudah ada walaupun satu tahun, tapi ketika saya harus memilih pangkat paling bawah tuh pilihannya banyak ini gelas ini banyak sekali, ya saya cari yang tidak retaklah,” jelas pengamat intelijen tersebut.
Tak hanya itu, Soleman Ponto juga membeberkan kemungkinan terganjalnya karier Richard Eliezer dikarenakan ketatnya persaingan dalam lingkungan Polri.
“Yaitu yang saya bilang tadi kalau kita lihat dari luar ya fine-fine aja tetapi ketika di dalam persaingan antara mereka juga keras bukan nggak ada itu satu,” kata Soleman Ponto.
Soleman Ponto kembali menyinggung soal Richard Eliezer yang diibaratkan seperti gelas retak.
“Kedua atasannya itu pasti akan memilih gelas yang tak retak,” jelas Soleman Ponto.
Lalu poin ketiga, siapapun nanti yang memilih atau menggunakan 'gelas yang retak' tersebut akan ikut merasa was-was.
“Ketiga siapapun yang menggunakan ini pasti was-was dan tidak mungkin kita akan bilang was-was di luar tapi di dalam,” jelas pengamat intelijen tersebut.
“Kenapa? karena sekali berbuat dan ini untuk militer, sekali berbuat itu tercatat dan saya tukang catat kalau di militer,” lanjutnya.
Baca Juga: Kecewa! Richard Eliezer Tetap Menjadi Anggota Polri, Orang Tua Brigadir Yosua Ungkapkan Hal Ini
Soleman Ponto yang dulu juga bertugas mengatur penempatan anggota menuturkan dirinya pribadi tidak akan memilih oknum yang sudah 'cacat'.
“Jadi kalau penempatan saya lihat mulai dari pendidikan ini apa saja yang pernah dia lakukan,” jelasnya.
Lantas saat ditanya apakah jika Richard Eliezer kembali ke Brimob juga termasuk sebagai anggota yang sudah cacat, Soleman Ponto menjawab seperti berikut.
“Cacat! Bagi saya yang tukang catat di militer tercatat cacat itu ada, apalagi seperti Eliezer ini banyak pilihan sehingga ketika kita mau mencari orang kenapa kita cari yang retak kan itu, ini pembicaraan saya dari dalam organisasi yang tidak bisa dilihat dari luar,” ungkapnya.***

Share this article
Bharada E diibaratkan bagai gelas retak dan sudah cacat oleh pengamat intelijen Soleman Ponto, kenapa?