AYOJAKARTA.COM - Gempa yang terus-terusan mengguncang Jawa Barat dan sekitarnya membuat masyarakat khawatir.
Hal ini karena adanya sesar yang secara aktif terus bergerak, salah satunya Sesar Baribis.
Adanya ancaman Sesar Barisis yang dapat menimbulkan gempa berkekuatan besar di Jawa Barat hingga Jakarta, maka mitigasi bencana menjadi hal yang krusial agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Namun ahli menyampaikan bahwa bukan gempa yang bisa menyebabkan jatuhnya korban.
Selama ini sudah banyak penelitian yang dilakukan tentang Sesar Baribis sebagai modal untuk para ahli melakukan mitigasi bencana.
Dikutip AyoJakarta.com dari YouTube metrotvnews pada Jumat (9/12/2022), diketahui bahwa peneliti dari ITB yaitu Sri Widiantoro dan Subandi dari BMKG telah melakukan penelitian mengenai Sesar Baribis.
Penelitian tersebut menyebutkan bahwa mereka meletakkan tujuh alat hole seismometer untuk meneliti seberapa besar gerakan Sesar Baribis, ternyata hasilnya adalah 5 mm per tahun.
Sebelumnya sudah ada beberapa penelitian tentang Sesar Baribis.
Salah satunya menyebutkan bahwa Sesar Baribis terletak 25 km di selatan Jakarta.
Baca Juga: Gorontalo Diguncang Gempa M 4.9 pada Jumat, 9 Desember 2022, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Data tersebut valid karena sudah disampaikan oleh Hilman dari BRIN.
Bahayanya adalah Sesar Baribis ini melewati daerah-daerah yang padat penduduk.
Menurut Prihadi sebagai Pemerhati Manajemen Bencana, ketika daerah rawan bencana sudah terlanjur dipenuhi oleh pemukinan maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah melatih penduduk untuk melakukan mitigasi bencana.
“Jadi ketika masyarakat sudah terlanjur mereka tinggal di wilayah ini maka mereka harus dilatih untuk melakukan mitigasi bencana,” ujar Prihadi.
Baca Juga: Mengenal Apa Itu Sesar Cimandiri, Sesar Baribis dan Sesar Mataram di Jalur Gempa Bumi
Jika terdapat warga yang memutuskan untuk membangun hunian di area yang rawan gempa maka harus diarahkan untuk membangun hunian yang bisa tahan terhadap gempa.
Prihadi mengungkapkan bahwa sesungguhnya gempa tidak menyebabkan korban jiwa, namun runtuhan bangunanlah yang bisa menyebabkan orang meninggal.
“Ingat, gempa bumi itu tidak menyebabkan korban jiwa. Tapi mereka yang meninggal atau tewas akibat gempa bumi itu akibat dari runtuhan gedung. Jadi paling utama adalah bagaimana memitigasinya,” ungkap Prihadi.
Itulah pentingnya mitigasi bencana berupa pembangunan hunian atau bangunan yang tahan gempa.
Dengan diadakannya mitigasi bencana bisa menekan angka korban bencana dan juga kerugian materi.
Indonesia ternyata memiliki 295 sesar aktif yang sudah divalidasi atau diidentifikasi.
Dari data yang sudah diperoleh dari peneliti dan para ahli diharapkan bisa mengedukasi masyarakat agar mengetahui tentang wilayahnya.
“Jadi kenali, mereka tinggal di wilayah yang beresiko karena gunung api, erupsi, tsunami, atau bahkan gempa bumi. Dari situlah muncul awareness muncul kepedulian,” kata Prihadi.
Meski begitu, Sesar Baribis masih perlu untuk terus dipelajari karena belum ada garis-garis yang jelas dan detail tentang pemetaan area yang secara persis dilewati.***

Share this article
Berikut penjelasan ahli terkait bahaya gempa akibat Sesar Baribis, ternyata bukan gempa yang akan menimbulkan korban jiwa melainkan hal ini.