AYOJAKARTA.COM – Gelombang pengungsi Rohingya yang terus berdatangan, semakin mendapat penolakan dari warga Aceh.
Perwakilan UNHCR Indonesia menyayangkan adanya penolakan yang berulang kali dilakukan oleh warga Aceh terhadap pengungsi Rohingya.
Pernyataan tersebut disampaikan usai kedatangan pengungsi Rohingya mendapat penolakan dari warga desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.
Baca Juga: Mahfud MD akan Komunikasi dengan 3 Provinsi Terkait Solusi Pengungsi Rohingya
Dengan menggunakan truk, ratusan pengungsi dipindahkan warga menuju Kantor Pusat Imigrasi Banda Aceh.
Langkah tersebut dilakukan warga, setelah tidak ada jalan keluar yang bisa diambil oleh pemerintah setempat dengan perwakilan UNHCR.
Menurut Asmadi Khadafi selaku Sekretaris Desa Lamreh, pemindahan dilakukan karena mengaku tidak sanggup untuk menampung para pengungsi.
Awal penolakan yang dilakukan warga Aceh terhadap pengungsi Rohingya, menurut Wahyudi Adi Siswanto selaku Bupati Pidie karena seringnya terjadi pergeseran.
Pada awal gelombang terjadinya pengungsi, warga Aceh secara ikhlas dan sukarela menyambut dan memberikan bantuan baik sandang maupun pangan.
“Itu fakta, tetapi dalam perkembangannya kebaikan warga itu dibuang-buang, sehingga masyarakat kaget, sudah dikasih dibuang-buang,” jelas Wahyudi.
Akibat perilaku dari para pengungsi Rohingya yang dinilai bertentangan dengan warga Aceh, persoalan dan perselisihan mulai sering terjadi.
Tidak adanya kepastian relokasi terhadap pengungsi yang terjadi secara berulang, menurut Ann Mayman selaku Kepala Perwakilan UNHCR Indonesia menjadi kendala utama.
“Permasalahan yang terjadi saat pengungsi tiba di pantai, tidak ada kepastian mau dibawa kemana, inilah kenapa kita harus bekerja sama,” ungkap Ann.
Baca Juga: Wapres Maruf Amin Singgung Isu Pulau Galang untuk Pengungsi Rohingya, Begini Respons Kecewa Netizen
Ann meyakini dengan kerjasama yang baik antara pemerintah lokal dengan UNHCR, maka persoalan pengungsi Rohingya bisa diatasi.
“Kerjasama UNHCR dengan pemerintah lokal diperlukan, kita akan menemukan jalan keluar, sebab ini sesuatu yang dapat diselesaikan,” imbuh Ann.
Sehubungan dengan semakin banyaknya jumlah pengungsi di Indonesia, Menkumham Yasonna Laoly memberi pernyataan.
Menurut Yasonna, jumlah pengungsi di Indonesia saat ini tercatat hampir mencapai jumlah 15.000 orang yang berasal dari berbagai negara.
“Di kita ini sekarang ada 15.000, 13.000-an lebih pengungsi dari Afghanistan, Iran, yang terakhir Rohingya,” jelas Yasonna.
Jumlah tersebut, menurut Yasonna merupakan korban dari para sindikat perdagangan orang serta korban konflik yang terjadi di negara asal.
Terkait dengan adanya penolakan warga Aceh terhadap pengungsi Rohingya, menurut Menkumham merupakan persoalan bersama yang perlu dicari jalan keluarnya.
“Kita berharap pemerintah daerah dan pusat, dan tentunya IOM dan UNHCR bersama-sama untuk mencari solusi yang tepat,” pungkas Yasonna. ***

Share this article
Perwakilan UNHCR Indonesia menyayangkan penolakan pengungsi Rohingya oleh warga Aceh. Meskipun ada dukungan awal.