AYOJAKARTA.COM - Asisten Pelatih Timnas U-20 Nova Arianto mengungkapkan kekecewaannya yang begitu menunggu event piala dunia ini sejak lama namun hasilnya sia-sia.
"Dan saya pun bertahan sampai di sini karena saya ingin berada di event piala dunia," ungkap Nova dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube Metro Tv pada 31 Maret 2023.
"Saya tidak terima dengan situasi ini, tapi ini yang kita dapat," sambungnya.
Nova begitu menunjukkan kekecewaannya yang mati-matian memperjuangkan Timnas Indonesia sejak 2020 hampir 4 tahun namun harapan ikut Piala Dunia pupus.
"Saya dari 2020 dengan Jeje, dari angkatan pertama kita latihan di Bekasi, sampai 4 tahun kita hanya dapat harapan kosong," jelas Nova.
"Mungkin kalian semua dengan kita disini sangat kecewa dan yakin pemain juga kecewa," sambungnya.
Padahal bukan perkara politik maupun agama, namun penolakan Timnas Israel oleh sebagian politis Indonesia menjadi bumerang.
Perjuangan Timnas Indonesia berlatih bahkan hingga ke Korea dan Spanyol seolah sia-sia.
"Ini yang kalian tunggu-tunggu sudah latihan kemana saja, korea, spanyol nyatanya sekarang nol," tutur Nova.
"Jadi saya gak peduli, ini bukan politik, ini bukan agama, sekali lagi ini hanya olahraga," tambahnya.
Perjuangan Indonesia agar bisa menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia U-20 begitu rumit.
Menghadapi persaingan ketat bahkan babak akhir Indonesia harus bersaing Brazil dan Peru yang memiliki pengalaman yang lebih unggul.
Waketum PSSI Zainudin Amali menjelaskan, Indonesia yang mengajukan kepada FIFA untuk menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia.
Kemudian Indonesia berusaha membangun komitmen-komitmen baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kepada FIFA.
"Karena ada komitmen-komitmen yang kita lakukan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah," jelas Zainudin.
Hingga pada Oktober 2019, Indonesia dipercaya oleh FIFA agar bisa menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia U-20 meskipun bersaing dengan negara unggul lainnya.
"Makanya kita menang, tanpa itu pasti kita tidak menang, lawan kita Brazil yang tradisi sepak bolanya kita sudah tahu," ungkap Zainudin.
"Ada Peru yang hampir setiap piala dunia senior dia ikut," sambungnya.
Namun hanya karena penolakan Timnas Israel, FIFA menganggap Indonesia telah melanggar komitmen yang telah dibangun sebelumnya.
Dimana penolakan itu disampaikan oleh politis Gubernur Bali, I Wayan Kosta dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meskipun awalnya sudah sepakat wilayahnya jadi lokasi ajang piala dunia.
"Tapi begitu sudah menang, ternyata seperti ini kan, akhirnya FIFA melihat bahwa kita tidak komit dengan apa yang sudah kita jaminkan itu," tutur Zainudin.
Indonesia terhitung sudah mengalami kerugian yang cukup besar untuk mempersiapkan ajang Piala Dunia U-20.
Dimana pada 2020 Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) mengajukan dana sebesar Rp400 miliar untuk mempersiapkan Timnas dan kebutuhan lainnya.
Tahun 2022 juga dilaporkan sejumlah dana Rp500 miliar dihabiskan untuk terus mempersiapkan ajang Piala Dunia tersebut.
Bahkan pada Tragedi Kanjuruhan sempat ada kekhawatiran bahwa FIFA akan mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah.
Akan tetapi berkat perjuangan Presiden Joko Widodo berkoordinasi dengan Presiden FIFA Gianni Infantino, Indonesia tetap dijadikan tuan rumah piala dunia.
Untuk melakukan renovasi stadion
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan dana sebesar Rp400 miliar tahun 2020 dan Rp175 miliar tahun 2023.
Sehingga jika ditotal, anggaran biaya yang sudah Indonesia habiskan untuk mempersiapkan ajang Piala Dunia U-20 mencapai Rp 1,4 triliun.***

Share this article
Nova begitu menunjukkan kekecewaannya yang mati-matian memperjuangkan Timnas Indonesia sejak 2020 hampir 4 tahun